Kamis, 27 Agustus 2020

Diferent, not bad! but imposible.

 Ini kisah tentang cinta beda Iman.

Yaps, klasik memang. Tapi hal ini yang paling berkesan dalam hidup gue sejauh ini. Buat kalian yang pernah menjalani cinta tapi beda, tenang kalian gak sendiri. Mungkin 1% dari jumlah pasangan di Indonesia mengalami hal ini. Jangan menyerah, selama presepsi kalian tentang perbedaan itu bisa di selaraskan gak perlu khawatir kalian masih bisa berlanjut, asalkan keluarga kalianpun merestui.

Nah, sedikit mau cerita tentang gue. Haha, udah lama nih gak nulis dan cerita. Sorry kalo rada muter-muter ya ceritanya.....

7 Tahun gais, gue kenal manusia yang pada akhirnya mengisi ruang di hati gue tetapnya Desember 2016 kita menobatkan menjadi sepsang kekasih. Sampai akhirnya 25 Agustus 2020 lalu kita, atau lebih tetapnya gue memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang tanpa ujung ini. Mungkin kalo di bilang lama ya memang cukup lama walaupun sebenernya 2018 lalu gue udah pernah menyatakan kita putus tapi nyatanya tetap berlanjut. Buat gue sih ngga ada waktu yang sia-sia, banyak pelajaran yang gue dapet termasuk mengikhlaskan sesuatu yang sudaah kamu perjuangkan. Singkat cerita hubungan kita yang membahagiakan, tapi kita ngga pernah bahas masa depan. Hingga akhirnya gue merasa kita ngga bisa, mungkin toleransi kita untuk perbedaan yang kita cukup besar tapi hanya untuk status "pacar" tidak sampai ke jenjang yang lebih. Perbedaan pendapat, dan sudut pansang mungkin faktor utama sih buat kita akhirnya menyudahi, karena gue yang berpikir ingin lanjut dengan perbedaan sedangkan dia yang berpikir perbedaan itu tidak bisa dijalankan saat sudah menjadi "kita", mungkin pemikiran dia tetap harus ada yang mengalah salah satu diantara kita. 

Pasangan menurut gue sih seharusnya menerima satu sama lain, perbedaan apapun itu, kekurangan apapun itu. Bukan malah berkorban untuk salah satunya. Jadi kalo kalian yang lagi dalam hubungan beda Iman, jangan pantang menyerah buat berjuang, selama sudut pandang kalian tentang perbedaan itu sama, masih oke banget buat dilanjutkan, untuk di perjuangkan. Problem pasti ada, ntah itu keluarga, teman, atau apapun itu tapi selama kalian satu pendapat pasti semua itu bisa dilewatkan. Mungkin kalo kaya gue sih, salah guenya juga gak diskusi baik-baik atau ngga mencari jalan tengah. Bukan mau membela diri juga sih tapi ya, alasan terbesar gue juga adalah keluarga. Terutama ortu dia, gue tau banget latar belakang keluarganya, harapan orangtuanya sama dia dan ya kurang lebih kondisi keluarganya. Kalo gue yang di posisi Ibunya mungkin gue bakalan khawatir melihat anak gue punya hubungan sama cewe yang beda Iman dan udah cukup lama. Takut dan merasa ngga berhasil jadi ortu karna ngga ngajarin anaknya. Terus gue juga memposisikan diri gue jadi kaka cewenya, kalo gue di posisi itu pasti sebisa gue ngelarang ade gue sama cewe yang beda Iman. Banyak faktor sih sebenernya ya, gue salut aja sama kalian yang bisa sampai nikah, punya anak bahkan cucu dengan pernikahan beda agama. Semangat buat kalian yang sedang berjuan dalam perbedaan, baik agama, suku atau apapun itu. Gue doain semoga langgeng ya, Semangat.