Kebahagia diiringi Kesedihan
Banyak hal yang dapat
diceritakan, banyak kata yang bisa diungkapkan dan banyak tingkah laku yang
dapat menggambarkannya. Namun tak banyak cerita yang tak terkisahkan, tak
banyak kata yang dapat dimengerti dan tak banyak tingkahlaku yang dapat
berubah.
Pelatihan Academia
Mediore, 26 Juni 2015 Pondk Santi Darma Godean merekam semua kegiatanku tempat
pembuangan sifat burukku. Kegiatan pertama yang saya lakukan yaitu registrasi,
pegumpulan alat elektronik, alat make up, makanan, pembagian baju AM, tas AM dan
pembagian kamar. Celano 1 kamar 2 itu kamar ku selama 7 malam di Academia
Mediore. Kegiatan awal dimulai dengan snack, perkenalan Academia Mediore,
perkenalan OC dan SC dan pembagian kelompok. Hanya satu hal yang saya dapatkan
pada hari itu, Academia Mediore melatih kita untuk berubah, sebuah perubahan
itu tidak datang begitu saja namun melalui proses dan proses itu akan dimulai
sejak tanggal 27 sampai nanti saya benar-benar berubah.
Memang tidak banyak
perubahan yang saya alami saat mengikuti Academia Mediore tapi perubahan itu
pasti terjadi pada diri saya, menjadi lebih baikkah? Atau lebih buruk? Itu
tergantung saya yang menjalaninya. Mau tau perubahan saya? Oke, saya akan
ceritakan selama tanggal 27-2 Agustus apa saja yang saya alami. Sebelumnya saya
mau memberitahu tugas apa saja yang diberikan pada setiap kelompok. Setiap
kelompok bertugas untuk memimpin senam setiap pagi, membangunkan peserta,
menyiapkan peralatan saat akan sesi, mematikan lapu dan keran air, menyiapkan
misa pagi, memimpin menyanyikan lagu Indonesia raya dan Nyala Terus Api
Persaudaraan, menyiapkan minum pembicara, dan lain sebagainya.
Setelah melewati hari
kedua yang diawali dengan pembukaan yang menarik saya memasuki hari kedua, nah
hari ini hari yang sangat berkesan. Curah Personalis itulah nama untuk sesi
ini, dengan berbekal uang Rp. 20.000,00 dan kemampuan dalam diri sendiri saya
mendapatkan tugas untuk pergi ke pasar karanggan di daerah tugu dan mencari
seorang KLMTD (Kaum Lemah Miskin Tersingkir Difabel) dan mewawancarai mereka. Ibu
Suryo adalah kaum KLMTD pertama yang saya temui, umurnya sudah 82 tahun bekerja
sebagai kuli panggul di pasar dia hanya mempunyai 1 anak laki-laki yang bekerja
sebagai kusir. Ibu Suryo enggan menceritakan penghasilannya kepada saya, dan
beliau tidak telalu terbuka tentang dirinya. Saya sedikit membantu mengangkat
barang-barang yang harus diantar ke toko-toko dipasar tersebut dan setelah itu
saya pergi mencari KLMTD lainnya. Ibu Suarjo adalah KLMTD ke dua yang saya
temui beliau seorang penjual petai dan buah-buahan dipasar karanggan dengan
umurnya yang sudah mencapai 88 tahun beliau masih mencari uang untuk biaya
hidupnya dan mengisi waktu sisa dimsa tuanya. Beliau berjualan sudah hampir 30
tahun dan penghasilannya sanggat kecil dengan harga petai yang hanya Rp.
5000,00 persatuannya dalam 1 hari peghasilan bersih beliau rata-rata Rp. 20.000
– Rp. 50.000. Ibu Suarjo ini mempunyai 7 anak, 16 cucu, dan 8 buyut. Rumah Ibu
Suarjo tidak jauh dari pasar karanggan dan dia tinggal bersama anaknya.
Curah Personalis adalah
sesi pertama yang berkesan untuk saya dengan kurang mampunya saya dalam
berbahasa jawa menjadi salah satu hambatan dan tantangan baru bagi saya untuk
berkomunikasi, selain itu ini pertama kalinya juga saya berkeliling Jogja, kota
yang tidak saya tahu seluk beluknya. Untuk mengetahui jalan saya harus bertanya
kesana kemari dan dengan uang minim yang saya punya harus menempuh perjalanan
menuju pasar yang cukup jauh jadi saya menaiki mobil pick up lalu disambung
dengan bus dan berjalan kaki sampai ke pasar dan perjalanan pulang saya tempuh
dengan menaiki TJ (Trasn Jogja) lalu berjalan cukup jauh dan naik bus.
Banyak perlajaran yang di
dapat dari sesi hari kedua ini, tapi masih ada sesi paling seru lagi yaitu sesi
dimana saya harus bersihin kandang kambing. Saya termasuk orang yang tidak
begitu suka sama kotor dan bau sedangkan kambing identic dengan kedua hakl
tersebut jadi saya terpaksa harus berhubungan dnegan baud an kotor. Hai itu
tanggal 28 Juli 2015 saya dan teman-teman saya bersihin kandang kambing,
pertamanya membersihkan rumput-rumput sisa makanannya dulu dengan mengangkatnya
ke gerobak dan membuangnya di pembuangan disitu juga terdapat sampah-sampah
yang sudah tercampur juga dengan kotoran kambing. Kandang kambing tersebut kami
sapu dan bersihkan dan saya harus masuk-masuk ke dalam kambingnya huuuh sumpah
itu bau banget tapi itu jadi tantangan baru buat saya. Merawat kambing kayanya
cukup sulit karena harus mencari makannya, memberi kambing makan dan
membersihkan kandang kambingnya. Tapi hari itu cukup seru dan pelangalaman baru
juga.
Dinamika makan hari
inipun cukup unik dengan menjadi orang buta, difabel dan lumpuh seluruh tuhub
itu ternyata cukup sulit. Saya menjadi orang buta saat makan dan ketika dari
aula ke ruang makan saya harus di papah, harus deri tahu bila ada tangga atau
lubang dan saat makanpun saya tidak bisa mlihat makan apa yang saya makan,
bentuknya seperti apa, semuanya gelap dan saya hanya bisa mengikuti instruksi
dan kata hati saya saja. Ternyata tidak mudah menjadi orang buta semua menjadi
ketergantungan dan selalu dibantu oranglain. Saya bersyukur Tuhan menciptakan
saya menjadi anak yang normal.
Materi yang cukup sulit
dan panjang pembahasannya namun sangat asik untuk dibahas, yaitu materi
analisis social, materi ini memakan cukup banyak waktu untuk membahasnya namun
pada akhirnya saya cukup mengerti materi ini yaitu analisis social adalah
menganalisis suatu keadaan dan membuat orang disekitar keadaan tersebut mau
memperbaiki keadaan tersebut. Melakukan Analisis social bila dilakukan oleh
masyarakat dan tanpa membawa kepentingan pribadi. Melakukan perubahan disuatu
komunitas itulah tujuan melakukan analisis social namun yang melakukan
perubahan tersebuat adalah masyarakatnya sendiri yang tentu dibantu oleh kita.
Menulis akan menjadi
suatu hal yang digemari juga oleh alumni Academia Mediore karena Pak St.
Kartono yang menjadi pembicara kami di AM membuat saya berfikir menulia itu
adalah hal yang istimewa dengan menulis kita bisa berbicara, mengutarakan
pendapat dan untuk apa berpendapat bila tidak disampaikan? Namun dari menulis
hal itu bisa tersampaikan. Public speaking juga termasuk media untuk
menyampaikan pendapat dan kami diajarkan cara untuk berpidato, berdiskusi dalam
kelompok dan debat. Kemampuan dalam kepemimpinan kamipun di latih dengan
bermain games dimulai dari individu, kelompok kecil dan kelompok besar sampai
akhirnya kami sadar bahwa kami hanya satu kelompok yaitu peserta Academia
Mediore 2015, pemimpin itu hanya satu dan mulailah dari memimpin diri sendiri.
Acara ini ditutup dengan
refleksi malam yang mengesankan kami dari setiap group menampilkan kemampuan
kelompok kami dengan teman berbeda-beda yaitu Disiplin, Peduli dan Rendah hati.
Group saya medapat tema Rendah hati dan menampilkan sebuah puisi yang dibacakan
oleh Kevin lalu kami bernyanyi bersama lagu yang di ciptakan oleh Kak Joice.
Lagu yang bermakna isinya dan kita memang akan selalu bersaudara dalam nama
Tuhan Yesus Kristus. Setelah penampilan setiap kelompok kami ibadah di depan
api unggun dan kami diminta untuk membakan komitmen yang sudah kami buat di api
unggun. Saya membacakan komitmen saya di depan api unggun itu lalu membakarnya,
saya berjanji akan menjalankan komitmen itu. Lalu malam itu ditutup dengan
bahagian.
Hari ini adalah hari
terakhir dimana kami akan berpisah dan dilepas di dunia yang lebih luas tidak
hanya diantas 37 orang saja namaun diantara ribuan orang. Dimulai dengan
sarapan pagi, membuat action plan, pemutaran video, makan siang lalu misa
penutup. Setelah misa penutup ada acara pembasuhan kaki dimana kaki setiap
anggota kelompok dibasuh oleh pendamping kelompoknya yang dimana mereka adalah
seorang Frater, saya merasa sangat terharu ketika Frater Abe membasuh kaki saya
dan setetes demi setetes air mata saya mulai mengalir. Begitu rendah hatinya
mereka mau membasuh kaki saya dan akhirnya kamipun anak dampingannya membasuh
kaki Frater Abe dan kami berpelukan sangat erat dengan bertumpahan air mata. Bahagia
rasanya hari itu dimana saya merasa menemukan keluarga baru, namun rasa bahagia
itu di iringi dengan rassa sedih dimana kitya harus berpisah dan pulang ke
tempat asal kita masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar