Kamis, 13 Agustus 2015

Kebahagia diiringi Kesedihan

Banyak hal yang dapat diceritakan, banyak kata yang bisa diungkapkan dan banyak tingkah laku yang dapat menggambarkannya. Namun tak banyak cerita yang tak terkisahkan, tak banyak kata yang dapat dimengerti dan tak banyak tingkahlaku yang dapat berubah.
Pelatihan Academia Mediore, 26 Juni 2015 Pondk Santi Darma Godean merekam semua kegiatanku tempat pembuangan sifat burukku. Kegiatan pertama yang saya lakukan yaitu registrasi, pegumpulan alat elektronik, alat make up, makanan, pembagian baju AM, tas AM dan pembagian kamar. Celano 1 kamar 2 itu kamar ku selama 7 malam di Academia Mediore. Kegiatan awal dimulai dengan snack, perkenalan Academia Mediore, perkenalan OC dan SC dan pembagian kelompok. Hanya satu hal yang saya dapatkan pada hari itu, Academia Mediore melatih kita untuk berubah, sebuah perubahan itu tidak datang begitu saja namun melalui proses dan proses itu akan dimulai sejak tanggal 27 sampai nanti saya benar-benar berubah.
Memang tidak banyak perubahan yang saya alami saat mengikuti Academia Mediore tapi perubahan itu pasti terjadi pada diri saya, menjadi lebih baikkah? Atau lebih buruk? Itu tergantung saya yang menjalaninya. Mau tau perubahan saya? Oke, saya akan ceritakan selama tanggal 27-2 Agustus apa saja yang saya alami. Sebelumnya saya mau memberitahu tugas apa saja yang diberikan pada setiap kelompok. Setiap kelompok bertugas untuk memimpin senam setiap pagi, membangunkan peserta, menyiapkan peralatan saat akan sesi, mematikan lapu dan keran air, menyiapkan misa pagi, memimpin menyanyikan lagu Indonesia raya dan Nyala Terus Api Persaudaraan, menyiapkan minum pembicara, dan lain sebagainya.
Setelah melewati hari kedua yang diawali dengan pembukaan yang menarik saya memasuki hari kedua, nah hari ini hari yang sangat berkesan. Curah Personalis itulah nama untuk sesi ini, dengan berbekal uang Rp. 20.000,00 dan kemampuan dalam diri sendiri saya mendapatkan tugas untuk pergi ke pasar karanggan di daerah tugu dan mencari seorang KLMTD (Kaum Lemah Miskin Tersingkir Difabel) dan mewawancarai mereka. Ibu Suryo adalah kaum KLMTD pertama yang saya temui, umurnya sudah 82 tahun bekerja sebagai kuli panggul di pasar dia hanya mempunyai 1 anak laki-laki yang bekerja sebagai kusir. Ibu Suryo enggan menceritakan penghasilannya kepada saya, dan beliau tidak telalu terbuka tentang dirinya. Saya sedikit membantu mengangkat barang-barang yang harus diantar ke toko-toko dipasar tersebut dan setelah itu saya pergi mencari KLMTD lainnya. Ibu Suarjo adalah KLMTD ke dua yang saya temui beliau seorang penjual petai dan buah-buahan dipasar karanggan dengan umurnya yang sudah mencapai 88 tahun beliau masih mencari uang untuk biaya hidupnya dan mengisi waktu sisa dimsa tuanya. Beliau berjualan sudah hampir 30 tahun dan penghasilannya sanggat kecil dengan harga petai yang hanya Rp. 5000,00 persatuannya dalam 1 hari peghasilan bersih beliau rata-rata Rp. 20.000 – Rp. 50.000. Ibu Suarjo ini mempunyai 7 anak, 16 cucu, dan 8 buyut. Rumah Ibu Suarjo tidak jauh dari pasar karanggan dan dia tinggal bersama anaknya.
Curah Personalis adalah sesi pertama yang berkesan untuk saya dengan kurang mampunya saya dalam berbahasa jawa menjadi salah satu hambatan dan tantangan baru bagi saya untuk berkomunikasi, selain itu ini pertama kalinya juga saya berkeliling Jogja, kota yang tidak saya tahu seluk beluknya. Untuk mengetahui jalan saya harus bertanya kesana kemari dan dengan uang minim yang saya punya harus menempuh perjalanan menuju pasar yang cukup jauh jadi saya menaiki mobil pick up lalu disambung dengan bus dan berjalan kaki sampai ke pasar dan perjalanan pulang saya tempuh dengan menaiki TJ (Trasn Jogja) lalu berjalan cukup jauh dan naik bus.
Banyak perlajaran yang di dapat dari sesi hari kedua ini, tapi masih ada sesi paling seru lagi yaitu sesi dimana saya harus bersihin kandang kambing. Saya termasuk orang yang tidak begitu suka sama kotor dan bau sedangkan kambing identic dengan kedua hakl tersebut jadi saya terpaksa harus berhubungan dnegan baud an kotor. Hai itu tanggal 28 Juli 2015 saya dan teman-teman saya bersihin kandang kambing, pertamanya membersihkan rumput-rumput sisa makanannya dulu dengan mengangkatnya ke gerobak dan membuangnya di pembuangan disitu juga terdapat sampah-sampah yang sudah tercampur juga dengan kotoran kambing. Kandang kambing tersebut kami sapu dan bersihkan dan saya harus masuk-masuk ke dalam kambingnya huuuh sumpah itu bau banget tapi itu jadi tantangan baru buat saya. Merawat kambing kayanya cukup sulit karena harus mencari makannya, memberi kambing makan dan membersihkan kandang kambingnya. Tapi hari itu cukup seru dan pelangalaman baru juga.
Dinamika makan hari inipun cukup unik dengan menjadi orang buta, difabel dan lumpuh seluruh tuhub itu ternyata cukup sulit. Saya menjadi orang buta saat makan dan ketika dari aula ke ruang makan saya harus di papah, harus deri tahu bila ada tangga atau lubang dan saat makanpun saya tidak bisa mlihat makan apa yang saya makan, bentuknya seperti apa, semuanya gelap dan saya hanya bisa mengikuti instruksi dan kata hati saya saja. Ternyata tidak mudah menjadi orang buta semua menjadi ketergantungan dan selalu dibantu oranglain. Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya menjadi anak yang normal.
Materi yang cukup sulit dan panjang pembahasannya namun sangat asik untuk dibahas, yaitu materi analisis social, materi ini memakan cukup banyak waktu untuk membahasnya namun pada akhirnya saya cukup mengerti materi ini yaitu analisis social adalah menganalisis suatu keadaan dan membuat orang disekitar keadaan tersebut mau memperbaiki keadaan tersebut. Melakukan Analisis social bila dilakukan oleh masyarakat dan tanpa membawa kepentingan pribadi. Melakukan perubahan disuatu komunitas itulah tujuan melakukan analisis social namun yang melakukan perubahan tersebuat adalah masyarakatnya sendiri yang tentu dibantu oleh kita.
Menulis akan menjadi suatu hal yang digemari juga oleh alumni Academia Mediore karena Pak St. Kartono yang menjadi pembicara kami di AM membuat saya berfikir menulia itu adalah hal yang istimewa dengan menulis kita bisa berbicara, mengutarakan pendapat dan untuk apa berpendapat bila tidak disampaikan? Namun dari menulis hal itu bisa tersampaikan. Public speaking juga termasuk media untuk menyampaikan pendapat dan kami diajarkan cara untuk berpidato, berdiskusi dalam kelompok dan debat. Kemampuan dalam kepemimpinan kamipun di latih dengan bermain games dimulai dari individu, kelompok kecil dan kelompok besar sampai akhirnya kami sadar bahwa kami hanya satu kelompok yaitu peserta Academia Mediore 2015, pemimpin itu hanya satu dan mulailah dari memimpin diri sendiri.
Acara ini ditutup dengan refleksi malam yang mengesankan kami dari setiap group menampilkan kemampuan kelompok kami dengan teman berbeda-beda yaitu Disiplin, Peduli dan Rendah hati. Group saya medapat tema Rendah hati dan menampilkan sebuah puisi yang dibacakan oleh Kevin lalu kami bernyanyi bersama lagu yang di ciptakan oleh Kak Joice. Lagu yang bermakna isinya dan kita memang akan selalu bersaudara dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Setelah penampilan setiap kelompok kami ibadah di depan api unggun dan kami diminta untuk membakan komitmen yang sudah kami buat di api unggun. Saya membacakan komitmen saya di depan api unggun itu lalu membakarnya, saya berjanji akan menjalankan komitmen itu. Lalu malam itu ditutup dengan bahagian.

Hari ini adalah hari terakhir dimana kami akan berpisah dan dilepas di dunia yang lebih luas tidak hanya diantas 37 orang saja namaun diantara ribuan orang. Dimulai dengan sarapan pagi, membuat action plan, pemutaran video, makan siang lalu misa penutup. Setelah misa penutup ada acara pembasuhan kaki dimana kaki setiap anggota kelompok dibasuh oleh pendamping kelompoknya yang dimana mereka adalah seorang Frater, saya merasa sangat terharu ketika Frater Abe membasuh kaki saya dan setetes demi setetes air mata saya mulai mengalir. Begitu rendah hatinya mereka mau membasuh kaki saya dan akhirnya kamipun anak dampingannya membasuh kaki Frater Abe dan kami berpelukan sangat erat dengan bertumpahan air mata. Bahagia rasanya hari itu dimana saya merasa menemukan keluarga baru, namun rasa bahagia itu di iringi dengan rassa sedih dimana kitya harus berpisah dan pulang ke tempat asal kita masing-masing.

Tidak ada komentar: