Penghujung bulan basah ini sepertinya berakhir dengan kehangatan, memang tak sesempurna kehangatan dalam peluk namun lebih hangat saat hujan membasahi di malam hari. Sapaan manis yang akhir-akhir ini selalu aku dapat setiap menjelang tidur membuat akhir bulan yang memperingati hari pahlawan ini menjadi lebih berkesan dari bulan basah sebelumnya. Banyak kerinduan pada orang-orang yang aku sayang sebenarnya tapi 2 bulan terakhir ini semua tidak bisa terwujud, hal itu yang membuat kehangatan ini kurang sempurna.
Jika kau bisa membaca fikiran ku, benak ku selalu bertanya kapan akhir dari semua ini? Ucapan manis, perhatian, larangan, kecemburuan dan segala hal yang kau tunjukan itu apakah akan segera berakhir? Atau akan menjadi milik ku dengan utuh dan resmi? Ya walau aku tau semuanya hanya akan sementara.
Ku tutup bulan ini dengan indah karna selalu bersama orang yang ku sayang, walau semua hanya sementara. Tak akan ada yang abadi, tapi bodohkah aku, saat bermain suatu permainan dan sudah kuketahui bahwa aku akan kalah tapi permainan ini tetap ku mainkan.
Hanya saja perasaan seorang gadis ini bukan permainan, jadi haruskah pergi sebelum aku kalah?
Selamat tinggal malam dingin yang selalu menyelimuti di penghujung bulan november. Hujan yang membasahi menghilangkan senyum manis yang merona, paras nan elok. Pelangi canda tawa bulan ini akan sangat aku rindukan, kesabaran mu menghadapi kupun akan selalu aku rindukan. Dan semua kubungkus dalam pertanyaan terakhir ku pada bulan ini, masih sanggupkah engkau menjalani hari mu dengan manusia seperti ku? Selalu menyulitkan mu dalam segala dimensi, dan masih bisakah kau menerima kekurangan ku? Tulisan ini tak seindah bintang yang kau lihat di pantai pada malam hari atau gemerlap lampu kota saat kau lihat dari bukit tinggi. Tapi tulisan ini ungkapan kebahagiaan ku pada bulan ini yang selalu bersama mu, namamu yang menginspirasi ku untuk menulis ini.
Rabu, 30 November 2016
Kamis, 24 November 2016
Apa ini?
Ketakutan ini semakin hari semakin menyelimuti, aku selalu mencoba untu melawan tapi sangat sulit rasanya. Tak biasanya dengan mudah ku berucap manis, tak biasanya dengan mudah ku jatuh dalam pelukan, ada apa ini? Pasti ada yang salah. Haruskah aku hentikan? Tapi melawan diriku sendiri sangat sulit rasanya.....
Semua ini terlalu nyaman, yang ku tau ini bukan cinta, hanya kenyamanan. Setelah jarak memisahkan mungkin kita akan hidup dengan dunia masing-masing lagi. Tapi saat jarak ini menimbulkan kerinduan yang mendalam, maka aku terjebak dalam sebuah kata cinta. Jadi haruskan kita berpisah dulu?
Saat hati terluka memang terkadang harus membukanya untuk bisa menyembuhkannya, tapi apa ini proses untuk membuka hati? Sepaham ku, aku sudah mengiklaskan yang lalu, namun saat membuka lembar baru dengan kisah yang akan sama, rasanya percuma. Untuk apa aku meninggalkan yang lalu saat yang baru akan berakhir sama?
Aku hanya percaya pada Tuhan saat ini, pada diriku sendiripun rasanya aku tak percaya. Tuhan sedang merenda dalam hidup ku, biarkan kisah ku Dia yang menulis, aku hanya menulis kisah yang sudah kulalui ini. Semua aku percayakan pada-Nya.
Senin, 14 November 2016
Mungkin ini
Ada rasa takut dalam diri ku, sepertinya aku tau hal apa itu tapi sulit untuk mengucapkannya. Semakin lama aku menjalankan semua seperti ini akan sulit bagi ku melepaskannya, sayangnya suatu hari nanti harus aku lepaskan. Aku sudah terjebak dalam kenyamanan, seharusnya aku bisa membatasi diriku tapi daya tarik mu terlalu kuat. Bagaikan magnet kutub utara dan selatan yang saling menarik, terkadang ada penghalang tapi saat + dan - mengumpulkan masing-masing kekuatannya penghalang itu tak ada artinya lagi. Mungkin aku yang salah disini, tak bisa mengiklaskan saat kau akan meninggalkan. Rasa sayang itu tulus, hingga tak rela untuk kandas begitu saja.
Takut, saat aku tak bisa mengontrol diri dan perasaan ku.
Takut, saat aku akan merasakan tercampakkan nantinya.
Takut, saat aku akan merasa sakit yang mendalam.
Takut, saat aku akan menyesal karna keiklasan yang dipaksakan.
Takut, saat rasa ingin memiliki ini tumbuh semakin besar.
Takut, saat aku tak bisa membatasi hingga semua mengalami perubahan.
Takut, akan segala ketakutan ku.
Mungkin itu saja alasan ku, semakin lama aku semakin takut berada di dekat mu. Kau bukan benda yang bisa aku miliki sesuka ku dan saat ini harus ku turunkan egoku atas segala hal karna tak selamanya apa yang aku inginkan sama dengan kehendak Tuhan.
Langganan:
Komentar (Atom)