Kamis, 13 Oktober 2016

Anugrah Terindah

Kalian pasti tau group band Shilla On 7, dari jaman saya SD sampai sekarang yang katanya udah jadi mahasiswa band itu masih booming dan banyak penggemarnya. Saya ingin menyanyikan satu lagu mulik band ini yang berjudul Anugrah terindah. Suka banget lirik lagu ini “Anugrah terindah yang pernah ku miliki” setiap saya menyanyikan lagu ini rasanya saya sedang bersyukur karna Tuhan memang memberikan banyak anugrah dan sangan indah. Keluarga, sahabat, teman, kebahagiaan dan kehidupan ini adalah anugrah. Banyak orang-orang hebat yang Tuhan hadirkan dalam kehidupan saya. Orangtua saya terutama, mereka best of the best parents banget. Mereka yang selalu mengorbankan kepentingan mereka untuk kami anak-anaknya. Memang itu kewajiban, dan mereka sangat bertanggung jawab atas titipan Tuhan ini. Lima orang anak dengan sifatnya masing-masing harus mereka didik, itu bukan hal mudah. Pendidikan selalu diutamakan oleh mereka, begitupula pendidika moral. Saat ini saya ingin membahas lebih dalam tentang saya.
21 tahun lamanya, Bapak dan Mamah mendidik saya, orang paling keras kepala, cerewat, galak dan emosian kalo dirumah. Syukur-syukur saya bukan anak paling manja dan cengeng, walaupun sifat itu ada dalam diri saya. Kalian tau? Dulu saya sering beranggapan kasih sayang kalian itu tidak merata, tapi untungnya niat-niat untuk kabur dari rumah itu tidak pernah terealisasi. Sayapun selalu merasa marah sama mamah karena setiap Bapak saya marah ke salah satu saudara saya pasti yang selalu mamah salahin saya, tapi saya bersyukur bapak selalu menjadi pembela saya, bapak orang paling jarang marahin saya dirumah. Saya sangat jelas mengingat saat bapak saya marah, 3 kali bapak saya marah dan itu luka yang sangat membekas, sulit untuk sembuh dan diiklaskan. Pernah diusir sama bapak sendiri? Pernah dibentak-bentak dini hari dan bikin tetangga bangun? Ya, saya pernah merasakan itu dan satu hal lagi yang menurut saya tidak harus saya ceritakan.
Bapak adalah sosok paling keren dalam hidup saya. Banyak hal yang bias dikerjakannya, apalagi cara pemikirannya ketika kita ngobrol-ngobrol santai. Sekarang saya tau kenapa saya seperti ini, baik fikiran, tata bahasa fluktuasi emosinya saya seperti ini karena bapak saya seperti ini. Darah batak sangat kental dikeluarga kami dan ketika berbicara ya bapak seperti itu, menyampaikan pendapat dengan menggebu-gebu dan itu tidak marah, hal itu perlu digaris bawahi. Sayapun seperti itu saat menyampaikan pendapat dan pemikiran logis saya itu benar-benar seperti bapak sangat amat memakai logika dan melihat realita.
Saya selalu kagum sama bapak saya, walaupun terkadang heran dengan yang dilakukannya. Bila dikatakan kenapa saya bukan orang yang mudah tersentuh perasaannya, ya jawabannya karna bapak saya tidak seperti itu dan lingkungan saya tidak mendidik itu.
Saya dari tadi banyak cerita tentang bapak, ya dia sosok terhebat dalam hidup saya. Sayapun punya mamah sosok yang gak kalah hebat dan gak kalah kuat. Mamah yang selalu ada untuk kami anak-anaknya, mamah paling ngerti bapak. Saya selalu yakin bapak dan mamah itu memang jodoh, mereka pasangan paling serasi. Tak sering saya melihat hal-hal romantic dalam hubungan mereka tapi yang saya tau ikatan batin mereka sudah terhubung, kenapa? Karna dengan jelas saya sering melihat, tanpa komunikasi mereka bias saling mengerti satu sama lain dan kasih sayang yang ditunjukan mamah untuk bapak sangat luar biasa.  Mamah orang paling sabar, tenang dan tau cara menghadapi bapak. Saya selalu percaya ketika ada hubungan yang saling mengerti dalam diam mereka sudah saling terikat. Tidak harus hubungan kekasih, bias saja sahabat, teman dan saudara.

Mamah, kalian tau seberapa penting mamah untuk saya? Sangat amat penting. Saya bukan apa-apa tanpa mamah. Seperti saya katakana sebelumnya ikatan atau hubungan, saya dan mamah sudah sangan terhubung dengan sempurna. Saat ini saya sedang menjadi anak perantauan, dulu ketika saya bedara di semester 3 ada satu titik saya merindukan rumah, saat malam hari saya hanya bias menangis sambil memanggil mamah dan bergerutu mengeluhkan keadaan. Bukam saya tidak berani menelpon dan mengatakan rindu tapi saya tidak ingin orang rumah khawatir. Saya menangis sampai tertidur dengan lelap. Pagi hari mamah telpon dan menanyakan kabar, bercerita, ya semacamnyalah. Begitulah ikatan saya dengan mamah. Terkadang saya heran mengapa tidak ada sifat mamah yang menurun pada saya? Takdir, itu jawaban terbaik saat ini. 21 tahun mah, makasih sangat amat berterima kasih saya sampaikan terimakasih sudah menghadapi anak yang sekeras kepala ini, sesombong ini, banyak maunya, ngerepotin dan sebagainya. Saya anak beruntung, banyak orang yang menyayangi saya, bahagia akan kehadiran saya. Mah, Pak makasih dan Tuhan syukur hamba haturkan atas waktu yang Engkau berikan hingga saya bias menikmati usia ke-21 tahun ini. Bantu hamba menjadi lebih baik dengan cara yang benar.

Tidak ada komentar: