Kalian
pasti tau group band Shilla On 7, dari jaman saya SD sampai sekarang yang
katanya udah jadi mahasiswa band itu masih booming dan banyak penggemarnya.
Saya ingin menyanyikan satu lagu mulik band ini yang berjudul Anugrah terindah.
Suka banget lirik lagu ini “Anugrah terindah yang pernah ku miliki” setiap saya
menyanyikan lagu ini rasanya saya sedang bersyukur karna Tuhan memang
memberikan banyak anugrah dan sangan indah. Keluarga, sahabat, teman,
kebahagiaan dan kehidupan ini adalah anugrah. Banyak orang-orang hebat yang
Tuhan hadirkan dalam kehidupan saya. Orangtua saya terutama, mereka best of the
best parents banget. Mereka yang selalu mengorbankan kepentingan mereka untuk
kami anak-anaknya. Memang itu kewajiban, dan mereka sangat bertanggung jawab
atas titipan Tuhan ini. Lima orang anak dengan sifatnya masing-masing harus
mereka didik, itu bukan hal mudah. Pendidikan selalu diutamakan oleh mereka,
begitupula pendidika moral. Saat ini saya ingin membahas lebih dalam tentang
saya.
21
tahun lamanya, Bapak dan Mamah mendidik saya, orang paling keras kepala,
cerewat, galak dan emosian kalo dirumah. Syukur-syukur saya bukan anak paling
manja dan cengeng, walaupun sifat itu ada dalam diri saya. Kalian tau? Dulu
saya sering beranggapan kasih sayang kalian itu tidak merata, tapi untungnya
niat-niat untuk kabur dari rumah itu tidak pernah terealisasi. Sayapun selalu
merasa marah sama mamah karena setiap Bapak saya marah ke salah satu saudara
saya pasti yang selalu mamah salahin saya, tapi saya bersyukur bapak selalu
menjadi pembela saya, bapak orang paling jarang marahin saya dirumah. Saya
sangat jelas mengingat saat bapak saya marah, 3 kali bapak saya marah dan itu
luka yang sangat membekas, sulit untuk sembuh dan diiklaskan. Pernah diusir
sama bapak sendiri? Pernah dibentak-bentak dini hari dan bikin tetangga bangun?
Ya, saya pernah merasakan itu dan satu hal lagi yang menurut saya tidak harus
saya ceritakan.
Bapak
adalah sosok paling keren dalam hidup saya. Banyak hal yang bias dikerjakannya,
apalagi cara pemikirannya ketika kita ngobrol-ngobrol santai. Sekarang saya tau
kenapa saya seperti ini, baik fikiran, tata bahasa fluktuasi emosinya saya
seperti ini karena bapak saya seperti ini. Darah batak sangat kental dikeluarga
kami dan ketika berbicara ya bapak seperti itu, menyampaikan pendapat dengan
menggebu-gebu dan itu tidak marah, hal itu perlu digaris bawahi. Sayapun
seperti itu saat menyampaikan pendapat dan pemikiran logis saya itu benar-benar
seperti bapak sangat amat memakai logika dan melihat realita.
Saya
selalu kagum sama bapak saya, walaupun terkadang heran dengan yang
dilakukannya. Bila dikatakan kenapa saya bukan orang yang mudah tersentuh
perasaannya, ya jawabannya karna bapak saya tidak seperti itu dan lingkungan
saya tidak mendidik itu.
Saya
dari tadi banyak cerita tentang bapak, ya dia sosok terhebat dalam hidup saya.
Sayapun punya mamah sosok yang gak kalah hebat dan gak kalah kuat. Mamah yang
selalu ada untuk kami anak-anaknya, mamah paling ngerti bapak. Saya selalu
yakin bapak dan mamah itu memang jodoh, mereka pasangan paling serasi. Tak
sering saya melihat hal-hal romantic dalam hubungan mereka tapi yang saya tau
ikatan batin mereka sudah terhubung, kenapa? Karna dengan jelas saya sering
melihat, tanpa komunikasi mereka bias saling mengerti satu sama lain dan kasih
sayang yang ditunjukan mamah untuk bapak sangat luar biasa. Mamah orang paling sabar, tenang dan tau cara
menghadapi bapak. Saya selalu percaya ketika ada hubungan yang saling mengerti
dalam diam mereka sudah saling terikat. Tidak harus hubungan kekasih, bias saja
sahabat, teman dan saudara.
Mamah,
kalian tau seberapa penting mamah untuk saya? Sangat amat penting. Saya bukan
apa-apa tanpa mamah. Seperti saya katakana sebelumnya ikatan atau hubungan,
saya dan mamah sudah sangan terhubung dengan sempurna. Saat ini saya sedang
menjadi anak perantauan, dulu ketika saya bedara di semester 3 ada satu titik
saya merindukan rumah, saat malam hari saya hanya bias menangis sambil
memanggil mamah dan bergerutu mengeluhkan keadaan. Bukam saya tidak berani
menelpon dan mengatakan rindu tapi saya tidak ingin orang rumah khawatir. Saya
menangis sampai tertidur dengan lelap. Pagi hari mamah telpon dan menanyakan
kabar, bercerita, ya semacamnyalah. Begitulah ikatan saya dengan mamah.
Terkadang saya heran mengapa tidak ada sifat mamah yang menurun pada saya?
Takdir, itu jawaban terbaik saat ini. 21 tahun mah, makasih sangat amat
berterima kasih saya sampaikan terimakasih sudah menghadapi anak yang sekeras
kepala ini, sesombong ini, banyak maunya, ngerepotin dan sebagainya. Saya anak
beruntung, banyak orang yang menyayangi saya, bahagia akan kehadiran saya. Mah,
Pak makasih dan Tuhan syukur hamba haturkan atas waktu yang Engkau berikan
hingga saya bias menikmati usia ke-21 tahun ini. Bantu hamba menjadi lebih baik
dengan cara yang benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar