Seperti dedaunan yang gugur bersamaan, mereka sudah berusaha berpegangan sekuat mungkin namun angin yang berhembus begitu kencang. Kami gugur bersamaan namun tidak selalu mendarat pada tempat yang sama bahkan tidak selalu bersamaan. Perjalanan kami menuju tempat akhir harus melalui gemuruh angin terlebih dahulu. Meninggalkan daun yang lain pada tangkainya, mengijinkan tempat kami ditumbuhi dedaunan yang baru. Bukan hanya dedaunan itu, tapi akupun akan mengalaminya. Ntah tentang tempat tinggal seutuhnya atau hanya tempat berteduh. Ntah tempat tinggal raga atau perasaan. Akhirnya semua akan ditinggalkan atau meninggalkan sebelum ditinggalkan? Semua itu pilihan. Aku punya pilihan lain, bertahan sampai yang pergi akan kembali lagi, bagaimana? Hemm, itupun jika ia kembali tapi ketika tidak? Haruskah aku menetap sampai aku tak bisa berkata lagi? Sampai aku kering keronta dan tersisa tulang belulang saja. Senaas itukah aku?
Ketika ia kembali saat kau menunggu, apakah pada saat itu kau sudah merasa jadi pemenang? Tidak sama sekali, 'bodoh' hanya itu kata yang layak untuk mu. Berapa lama waktu yang kau habiskan? Berapa orang yang kau siasiakan? Berapa banyak sakit yang kau terima? Hanya itu yang ingin aku sampaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar